Showing posts with label Masyarakat. Show all posts
Showing posts with label Masyarakat. Show all posts

Monday, September 25, 2017

Passen Stelsel

Lain dari itu perlu juga dicatat bahwa pada waktu itu di kalangan para pedagang Tionghoa tersebut juga ada keharusan untuk kemanapun mereka pergi selalu membawa “pas jalan" atau surat keterang jalan. Keharusan ini tidak lain merupakan pelaksaan dari suatu peraturan yg diadakan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1821 yang  terkenal dengan nama "passen stelsel  di mana ditetapkan bahwa setiap orang Tiongha harus membawa surat jalan yang  dinamakan "surat pas" ke manapun  mereka akan pergi.
Maksud diadakannya peraturan itu jelas sekali untuk membatasi pergerakan orang Tionghoa. Namun apakah peraturan itu belum cukup utk menjangkau tujuani yg hendak dicapainya hingga kemudian dirasa perlu utk menerbitkan suatu peraturan baru yang terkenal dengan nama "wijken stelsel".
Dengan  paraturan itu orang-orang Tionghoa tidak lagi diperbolehkan bertempat tinggal  di sembarang tempat yang mereka inginkan. Mereka di haruskan mengelompok dalam suatu kawasan tertentu yang sebelumnya telah ditetapkan oleh pemerintah.
Namun orang-orang Tionghoa di belakang hari tidak menghiraukan peraturan yang ditetapkan pada tahun 1871 itu. Banyak diantara mereka memandang peraturan itu tidak lebih hanya sebagai peraturannya. “Bevels bevel” kata mereka. Di luar Pecinan yg telah ditetapkan sebagai tempat tinggal resmi dari orang-orang Tionghoa mereka juga berani mengadakan tempat-tempat tinggal.
Pelanggaran ini tidak hanya terjadi di Betawi saja, tetapi juga di beberapa kota lain di pulau Jawa. Di kota Semarang misalnya kita melihat adanya orang-orang Tionghoa yang bertempat tinggal dikampung Melayu, hingga membikin warna kawasan itu sebagai tempat pemukiman beraneka suku bangsa kian majemuk.

Tuesday, February 23, 2016

Kelenteng



 Kelenteng Gang Pinggir

Bagi orang Tionghoa di kota Semarang pada waktu itu klenteng bukan main besar artinya. Sebuah klenteng tidak hanya mempunyai arti religi - sebagai tempat ibadah saja - tetapi juga mempunyai arti sosial, bahkan ekonomis - sebagai tempat penginapan bagi para pedagang dari luar kota yang sedang berniaga di kota Semarang.

Pada  masa  itu  ada kebiasaan begitu    para pedagang itu   di   Semarang     biasanya mereka langsung menuju ke klenteng  untuk  bersembahyang dan istirahat. Di tempat  itu pula  mereka  mengi nap   selama   mereka  melang sungkan perniagaannya.  Itu sebabnya pada   waktu   itu di   klenteng-klenteng  banyak terdapat   tikar   dan bantal  sebagai  persediaan  untuk  kepe luan para pedagang tersebut Mereka   tidak  suka    tidur di  dipan atau balai-balai sekali pun mungkin dipan atau balai2 itu  terdapat  di klenteng  di  mana  mereka    menginap. Mereka lebih, suka tidur  dengan  menggelar  tikar  karena  menurut  perasaan mereka: dengan cara demikian  mereka sekaligus  telah tirakat,  yakni  menirakati usaha mereka. Di samping itu dengan tidur di tikar mereka juga ingin menunjukkan  perasaan hormat mereka pada "beliau-beliau yang dipuja dalam klenteng di mana telah  menginap. Pendek kata dengan jalan tidur di atas tikar mereka ingin mengharapkan turunnya “berkah”. Tidak heran jika pada waktu itu sering terjadi banyak diantara mereka sampai memerlukan tidur di bawah meja sembahyang. Dengan  harapan untuk mendapatkan ba nyak sekali berkah!

Sekalipun pada waktu itu  ada diantara pengurus-pengurus klenteng yang kecuali menyediakan tikar dan bantal juga telah berbaik hati dengan sekaligus menyajikan teh bagi para tamu-tamunya, namun mereka sekali-kali tidak pernah memungut  bayaran dari para pedagang tersebut di atas. Sebagai tempat pe nginapan, pada waktu itu klenteng-klenteng di kota Semarang benar-benar merupakan hotel prodeo.

Untung para pedagang dari  luar kota itupun pada waktu itu ternyata juga pada tahu diri. Jika mereka akan berangkat pulang kembali ke kota asalnya, pada waktu itu ada kebiasaan dari mereka untuk .memberikan sumbangan pada klenteng di mana mereka telah menginap, berupa lilin, kertas sembahyanga, dupa  keperluan lagi yang dibutuhkan untuk upacara ibadah di klenteng-klenteng.

Pada masa awal tempo doeloe di kota Semarang sebenarnya sudah terdapat cukup banyak pedagang yang menjual berbagai macam makanan dan minuman, sekalipun demikian pada waktu itu para pedagang Tionghoa tersebut  di atas, boleh dikatakan jarang sekali yang nampak "jajan" di tempat-tempat serupa itu. Untuk keperluan makan mereka, biasanya mereka pada masak bubur sendiri di klenteng-klenteng di mana mereka telah menginap.

Perlu diketahui juga bahwa pada waktu itu sebenarnya berlaku sebuah prinsip bahwa sebuah klenteng terbuka bagi siapa saja yang berminat. Kendati demikian di kalangan  para pedagang Tionghoa dari luar kota pada waktu itu ada kebiasaan untuk menginap di diklenteng-klenteng familinya sendiri. Mereka yang berasal dari famili Kwee misalnya lebih suka menginap di klenteng Kwee Lak Kwa sementara mereka yang berasal dari famili Tan lebih suka pula untuk menginap di klenteng Tan Seng Ong di Sebandaran.

Saturday, October 31, 2015

Rumah dan Kekayaan

 Rumah Bhe Biauw Tjoan

Khusus mengenai langgam gayanya, barang tentu pada waktu itu rumah-rumah di Pecinan memiliki langam bangunan Tionghoa yang kuno, dengan bentuk wuwungan yang unik. Sementara pintu-pintunya dibuat spesial dari kayu jati yang tebal dan tua: nampak benar sangat kokoh dan kuat, sementara di sana sini ada pula yang memiliki pintu-pintu yang jauh lebih kuat lagi, karena memiliki kerangka yang spesial dibuat dari batu.
 
Kerangka pintu semacam itu tidak dibuat di Semarang, tapi didatangkan  khusus dari negeri leluhur. Tingginya kira-kira dua setengah me¬ter, sedangkan tebalnya sampai tiga puluh sentimeter. Untuk mendapatkannya tidaklah mudah dan .memerlukan banyak sekali biaya. Sekali-pun demikian para hartawan Tionghoa di kota Semarang pada masa itu tidak peduli soal kemahalan. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan banyak uang asal bisa mendapatkannya, karena mereka beranggapan bahwa rumah-rumah yang dibuat dengan kokoh, dengan pintu-pintu yang kuat dan kekar semacam itu tak akan mudah runtuh, bertahan lama sampai anak cicit nya.
 
Mereka itu berpikir terlampau panjang, sampai anak cucu, buyut. cicit dan setahu apanja lagi akan didukung, dikumpul dalam satu rumah, demikian pernah dikatakan oleh mendiang Liong Djwan Liem dalam sebuah artikelnya mengenai kota Semarang pada tahun 1850-an. "Mereka rupanya tak pertjaja kepada keadilan Tuhan bahwa kemuliaan dan kekajaan tidak dapat dimonopoli turun temurun. Satu peribahasa Tionghoapun adalah: Pajung harus bergilir dipakai, kursipun harus bergilir diduduki. Tidik kurang, malah banjak gedung-gedung besar jang megah, belum sampai satu keturunan sudah jadi milik orang lain ....".
 
Manusia tetap manusia, tidak dapat digalang dalam satu kandang; manusia tetap manusia, satu orang satu pikiran tidak dapat didikte untuk menurut sadja kehendak orang lain kendatipun orang itu orang tua sendiri ....". "
 

Bahkan dengan "berkumpul dalam satu gedung" memudahkan timbulnja bibit pertikaian. Misalnja anak dengan anak, isteri dengan isteri, akhirnja petjahlah gabungan keluarga itu. Ini kurang disadari oleh orang Tionghoa zaman dahulu"!

Wednesday, September 9, 2015

Rumah-rumah di Pecinan

 Rumah-Rumah di Batavia

PADA masa awal tempo doeloe Pecinan Semarang  masih merupakan  suatu tempat yang tidak boleh dipuji, demikian kiranya kesimpulan  yang akan kita tarik Jika kita  mengikuti lukisan yang  pernah diberikan Dr. Baron van Hoevell, seorang pendeta Belanda yg pada tahun 1847 pernah mengunjungi tempat itu.
 
Jalannya kecil dan sempit  serta menjorok jauh ke dalam. Sedangkan rumah-rumahnya, sekalipun terbuat dari tembok dan  beratap genting, namun keadaannya banyak yang kotor  dan suram. Hanya ada sedikit saja rumah-rumah yang baik di  tempat itu, demikian antara lain kesanang |pernah diberikan oleh Dr. Baron van Hoevell mengenai Pecinan Semarang dlm buku laporan perjalanan.