Showing posts with label Jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan. Show all posts

Tuesday, February 3, 2015

Sumber Pustaka



Flieringa.   G., De zorg voor de volkhnisvesting in de stadsgemeenten in Nederlandsch Oost Indie in het bijzonder in Semarang, (s'-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1930)
Jessup,   Helen Ibbitson, Netherlands architecture in Indonesia. 1900-1942. (Unpublished Dissertation, The Coutlauld Institute of Art, London 1988).
Kurosawa,  Kisho, Intercultural Architecture. The Philosophy of Symbiosys, (Academy Edition, London 1991).
Liem, Thiam Joe, Riwayat Semarang (Boekhandel Ho Kirn Yoe, Semarang Batavia, 1933)
Salmon, Claudin & D. Lombard, Les Chinois de Jakarta - Temple et Vie Collective, (Secmi, Gue'ret, 1985). Ringkasan dari buku ini sudah diterbitkan di Indonesia pada tahun 1985 oleh Cipta Loka Caraka, Jakarta.
Wilmott,   Donald Earl, The Chinese of Semarang; A Changing Minority Community in Indonesia (Cornell University Press, Ithaca New York, 1960).

Kesimpulan



Sebagai dampak dari buruknya infrastruktur dan rumah, orang Tionghoa telah dipaksa untuk mencari tempat lain yang jauh lebih sehat di wilayah pinggiran kota. Fenomena ini menciptakan suatu dikotomi antara kota pusat dan pinggiran. Para profesional telah memisahkan tempat antara tempat tinggal dan tempat kerja. Mereka bekerja di Pecinan tetapi tmggal di pinggiran kota. Orang yang mempekerjakan dirinya sendiri lebih suka memiliki sebuah toko yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tempat tinggal. Mereka menjalankan toko eceran di pusat perbelanjaan di wilayah perumahan baru. Para pengusaha Tionghoa kelas atas di Semarang tinggal di wilayah perbukitan dimana mereka memiliki pusat-pusat perbelanjaan yang luas di pusat kota.
Di Pecinan, walaupun banyak bagian depan rumah di jalan-jalan utama telah rusak karena sentimen anti Tionghoa, bau pemukiman Tionghoa masih ada dengan manifestasi visual terbatas. Kehidupan dan budaya dagang masih ada. Ini masih merupakan sebuah tempat yang hidup walaupun arsitektur tradisional mereka telah berubah secara brutal menjadi moderen - bagian depan yang telah rusak. Hal ini menunjukkan bahwa kesan kota memungkinkan penduduk untuk mengidentifikasikan masa lampau dan masa depannya sebagai suatu entitas politik, kultural dan sosial. Perubahan kultural hanya dapat terjadi melalui bagian dalam suatu masyarakat bukan karena tekanan politik dari luar.
Akan tetapi, dalam modernisasi yang cepat ini banyak orang Tionghoa masih menyimpan tradisi dan agama mereka. Selama perayaan kuil, orang-orang Tionghoa mengadakan banyak prosesi upacara keagamaan. Kwam Im masih memiliki tempat penting di dalam rumah-rumah mereka Tekanan politik selama Orde Baru yang berpengaruh terhadap kebudayaan Tionghoa telah berakhir. Saat ini upacara-upacara umum kebudavaan Peranakan Tionghoa muncul kembali di kota ini.

Transformasi Jalan



Telah berabad-abad orang Tionghoa hidup dalam rumah-rumah tradisionalnya yang dimspirasikan oleh arsitektur mereka sendiri. Sebelum abad XX, mereka tidak diijinkan untuk membangun rumah mereka dengan gaya rumah Belanda. Sebagai contoh, pada tahun 1877 pemerintah Belanda melarang Be Soe In untuk membangun sebuah flat rumah atap, karena model itu serupa dengan bentuk atap bangunan kantor Resident Belanda. Orang Tionghoa harus membangun bangunan mereka dengan model atap perabungan seperti rumah tradisional lainya (Liem, 1933: 150). Pada awal abad XX, setelah situasi politik di Belanda berubah, mereka tiba-tiba dibebaskan untuk membangun rumah mereka dengan gaya apa saja termasuk gaya Belanda.
Transformasi rumah pada awal abad ini mencerminkan runtuhnya diskriminasi rasial dan menunjukkan bahwa orang Tionghoa pemilik rumah-rumah ini berjuang memperoleh posisi yang sama dengan Belanda sebagai bagian dari kelompok yang berkuasa. Oleh karena itu, para pedagang borjuis Tionghoa yang kaya menggunakan kolom lonik, Tuscan dan Doris pada serambi rumah mereka, yang secara sadar mengidentifikasikan rumah mereka sebagai rumah "modern".3 Kerangka pintu berubah secara total menjadi kerangka pintu dengan segmen ventilasi di bagian atasnya Daun pintu berubah menjadi daun pintu jendela kaca. Bentuk atap rumah tradisional "kucing merangkak di atas atap dinding" digantikan dengan atap "bubungan" bergaya Roman.
Dengan kebebasan yang diperolehnya ini, sampai dengan masa kemerdekaan orang Tionghoa telah memainkan peranan penting dalam pengembangan arsitektur modem di wilayah perkotaan, sejalan dengan orang Belanda yang membangun kantor-kantor dan rumah-rumah modern. Orang Tionghoa membangun rumah pertokoan dan halaman gedung mereka yang modern yang memberikan kekayaan bentuk-bentuk arsitektur pada jalan-jalan, yang direka-reka sesuai dengan berbagai pilihan individu pembuatnya yang mengekspresikan diri mereka melalui gaya arsitektur ini. Perkembangan ini menyebabkan terjadinya integrasi antara arsitektur Tionghoa tradisional dan arsitektur kolonial moderen. Hasilnya adalah sebuah perpaduan dari berbagai bentuk arsitektur yang menunjukkan pluralitas dan diskontinuitas tetapi dalam kesatuan yang harmonis.

Sampai saat ini, walaupun arsitekturnya buruk, telah dibangun beberapa bangunan, seperti; supermarket, hotel dan kantor modern, yang dipakai sebagai tempat aktifitas bisnis orang Tionghoa di pusat kota. Tetapi sangat sedikit dari bagunan-bangunan itu yang bercirikan arsitektur asli. Semua bangunan modern ini telah menjadi ciri tersendiri dari kota.
Jalan berubah ke dalam kebudayaan global populer dengan berbagai plakat dan atmosflrnya telah dirubah dengan kasar oleh adanya pelebaran jalan. Kebudayaan Tionghoa mempertahankan suatu sintesis keahlian dari input yang berbeda dan gaya arsitektur peranakan secara kuat menunjukkan adanya penyimpangan dalam sejarah arsitektur Indonesia. Yang menyedihkan, budaya ini telah tertransformasi ke gaya internasional karena adanya pelebaran jalan. Sepanjang jalan utama di Pecinan, sebelum tahun 1966 tidak hanya ada ciri-ciri ke-Tionghoa-an tetapi juga karakteristik Latin. Nama-nama toko biasanya adalah nama pemiliknya. Pada masa Orde Baru, setelah tahun 1966 pemenntah melarang karakteristik Tionghoa ditunjukkan kepada publik di depan toko. Sekarang berbagai papan iklan dari produk tertentu dengan bahasa Inggris muncul di segala tempat. Sementara itu nama-nama toko yang telah di Indonesiakan sangat sedikit dan terletak di wilayah bawah. Beberapa di antara rumah pertokoan memasang papan di atas Balkon untuk meletakan nama toko dengan jelas. Papan-papan dan berbagai karakter nama toko yang berwama-wami itu memberikan kesan dekoratif di Pecinan. Tetapi ada tendensi arsitektur Tionghoa yang monoton dengan papan-papan nama yang repetitif setelah pelebaran jalan padatahun 1972.
Arsitektur khusus ini menciptakan dua persepsi yang berbeda. Pertama, suatu arsitektur dinamik yang mana peranan individu sangat penting untuk menciptakan figur jalan. Persepsi kedua, yang biasanya datang dari para perencana kota bahwa arsitektur khusus ini tidak asli dan harus di desain oleh seorang arsitek. Tetapi para perencana tidak pernah memperoleh hak mendesain Pecinan seperti pernah terjadi pada tahun 1972 ketika rumah di Gang Waning direnovasi bagian depannya karena jalan diperlebar. Kota dengan para desainernya memberikan desain seragam dan kehilangan keragamannya, yang dibutuhkan bagi sebuah jalan perbelanjaan. Beberapa tahun kemudian beberapa rumah didesain kembali oleh pemiliknya sesuai dengan selera ideal mereka. Di jalan Pecinan adalah sebuah ekspresi individu sebagai bagian dari kompetisi atas modernitas
Saat ini tidak hanya mobil-mobil kecil yang melewati jalan utama Pekojan -Gang Pinggir tetapi juga truk-truk dan kendaraan besar lainya. Selama jam-jam sibuk. sebelah sisi kiri dipakai untuk parkir yang hampir memakan tempat separuh luas jalan. Kemacetan sering terjadi terutama karena aktifitas bongkar-muat pada toko-toko grosir yang memerlukan akses langsung bagi kendaraan. Petugas parkir yang berseragam warna oranye menjadi sangat sibuk mengatur posisi parkir dan jalanan menjadi jalan perbelanjaan. Kurangnya trotoar memaksa para pejalan kaki untuk berjalan di antara mobil-mobil, yang tentu saja sangat berbahaya. Jalan-jalan menjadi sangat hidup tetapi tidak ramah karena diambil alih oleh mobil-mobil.
Akibatnya untuk mempercepat sampai ke tujuan orang lebih suka mengendarai sepeda motor.

3) Perbandingan Rumah Tionghoa bergaya Belanda dan rumah Belanda di Indonesia digambarkan olehJessup, 1988.

Berbagai Keahlian



Modermsasi dimulai ketika Belanda melunakkan sikap rasialnya pada awal abad XX. Modernisasi bagi mereka adalah ada dalam konstelasi yang sama dengan orang Belanda. Tidak hanya fasih dalam berbahasa Belanda tetapi juga pakaian mereka, gaya rambut dan akhirnya rumah-rumah mereka harus serupa dengan rumah orang Belanda. Pembukaan sekolah Tionghoa-Belanda dan dihapuskannya Wijkenstelsel adalah titik awal menuju konstelasi baru yang tidak lagi dicirikan secara ketat .aturan keluarga. Wanita Tionghoa yang telah bertahun-tahun inferior terhadap laki-laki mulai melihat bahwa pendidikan modern tidak pernah bersikap diskriminatif terhadap mereka. Tentu saja dalam proses transformasi dari konstelasi tradisional ke gaya hidup Belanda terdapat konflik internal dalam diri setiap orang sebagai suatu konflik kebudayaan. Sebagai tradisi masih membatasi masyarakat, mereka cenderung tumpang tindih antara dua kebudayaan seperti dapat ditemukan dalam skema rumah.
Perkembangan sistem sosial-ekonomi sebagai dampak langsung dari konstelasi baru telah membuat sistem ekonomi tradisional di dalam masyarakat Tionghoa tidak dapat menjawab perkembangan ekonomi modern di wilayah perkotaan. Toko-toko moderen dan besar telah menantang perdagangan tradisional dalam rumah toko. Semua keputusan diambil dalam lingkungan keluarga harus berkompetisi dengan kaum prosfesional.
Perkembangan ini didukung oleh fakta bahwa sejak awal abad ini telah ada orang Tionghoa yang mendapat hak untuk membuka perkebunan dan beberapa sektor moderen. Perusahaan-perusahaan Tionghoa yang besar memerlukan manajemen profesional untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan Belanda yang telah ada jauh sebelum mereka Sebagai konsekuensinya perusahaan-perusahaan Tionghoa ini niempekerjakan orang-orang dari luar lingkungan keluarga mereka.
Perubahan ini menciptakan persepsi baru tentang kedudukan. Umumnya, orang-orang Tionghoa lebih suka mempekerjakan dirinya sendiri dalam menjalankan toko atau perusahan kecil keluarganya. Pada saat itu banyak di antara mereka lebih suka memperoleh kedudukan di sebuah perusahaan Tionghoa yang besar. Persepsi ini telah menciptakan diversifikasi kedudukan dan berbagai profesi seperti jurnalis, pengacara, kepala sekolah, arsitek, kontraktor dan pekerjaan lain yang membutuhkan ruangan khusus dan tidak informal berada dalam rumah.
Pekerjaan-pekerjaan baru ini berkantor di rumah konsekuensinya transformasi dari kedudukan tradisional dirumah toko menjadi diversifikasi profesi modern telah meaibah pola tempat tinggal dan akhirnya memiliki dampak langsung pada kelas spasial dalam wilayah perkotaan. Jika pada jaman kuno orang Tionghoa bekerja didalam gedung sebagai rumah toko, pada jaman modern mereka bekerja d tempat lain diluar rumah mereka.
Bagian dalam rumah yang dipengaruhi Belanda nampak pada materialisasi ruang dengan jenis kamar-kamar yang dibedakan satu dengan yang lainnya, dan ambiguitas antara ruang dalam dan luar yang biasanya didapati didalam rumah orang Tionghoa telah hilang. Datangnya gaya internasional dengan kerangka struktur spasial, ruang menjadi tegas dan kongkrit dengan seluruh koordinatnya yang bergaya Cartesian. Akibatnya rumah-rumah baru kehilangan arah kosmologinya yang asli. Pararel dengan hal itu, seperti yang dikatakan Kurosawa, bahwa. tradisi kamar-kariiar multifiingsional berubah menjadi fungsi tunggal. Ada kamar yang dipakai untuk kamar tidur, kamar makan, dapur dan hiburan para tamu. Ini adalah pengaruh kuat dari pembagian buaih dari pandangan orang Eropa (Kurosawa, 1991:36).
Kelompok-kelompok yang berbahasa tertentu masih dapat ditemukan sampai tahun 1970-an, tetapi saat ini mereka terintegrasi satu sama lain dan karena generasi muda tidak berbicara bahasa Tionghoa lagi, kelompok-kelompok ini hampir lenyap. Oleh karena itu indikasi bahwa kelompok masyarakat Tionghoa yang berbahasa tertentu menduduki jalan tertentu telah hilang. Sebagai contoh, banyak toko di Pekojan (jalan) menjual bahan-bahan konstruksi dari paku ke semen (toko besi) bahkan grosir peralatan rumah tangga.

Nama Jalan dan Tempat Perdagangan



Jalan-jalan di Pecinan sebelumnya dalam bahasa Hokian disebut seperti Tjap Kauw King (19 petak rumah). diambil dari jumlah rumah yang ada di sepanjang jalan itu yang terdiri dan 19 buah (Liem 1933;60), Sin Kee (Gang Baru). Kemudian jalan dinamakan dengan nama Jawa menurut kedudukan penghuninya. Sebagai contoh nama Gambiran (tempat untuk menjual gambir), Petudungan (tempat untuk menjual atap rumah dari rumbia) dan Besen (tempat untuk pandai besi) menunjukkan dagangan eceran di sepanjang jalan. Sejalan dengan hal itu, masyarakat membagi wilayah Pecinan dalam arah lokasinya seperti; Pecinan Lor (Utara), Pecinan Kidul (Selatan), Pecinan Wetan (Timur) dan Pecinan Kulon (Barat) (Liem 1933; 24, 86-87). Nama ini menunjukkan bahwa Pecinan bukanlah suatu perkampungan tertutup tetapi terbuka sebagai tempat pertemuan antara berbagai kelompok etnik untuk menjalankan bisnis dagang dan hubungan sosial.
Ada dua jalan pasar; Jalan Pedamaran sebagai pasar tertua dari Semarang dan Gang Bam. Disebut Pedamaran karena ada banyak orang menjual damar, bahan yang dipakai untuk batik tulis tradisional. Para pedangang ini datang dari wilayah sebelah timur Sungai Semarang. Biasanya mereka menginap di rumah-rumah di sekitar pasar. Pelanggan-pelanggan mereka datang dari Mataram di wilayah pedalaman dan dari daerah lain di wilayah Timur Laut Pesisir Jawa Tengah seperti Jepara (Liem. 1933: 148). Di Gang baru ada pasar reguler yang menjual sayur-sayuran dari sejak pagi hingga malam. Jalan-jalan menjadi sangat padat dengan para pelanggan yang datang dari hampir seluruh wilayah Semarang. Orang harus saling berdesakan untuk bergerak. Di samping mmah pertokoan yang didiami oleh orang Tionghoa, ada juga penduduk asli yang datang dari sekitar Pecinan lama atau dari luar Semarang menjual sayuran dan daging.
Para pedagang dapat dibagi dalam dua kategori; pertama pedagang tetap yang memiliki tempat tersendiri seperti toko atau kios, dan kedua pedagang yang tidak memiliki toko atau kios tetapi mereka duduk di depan kios. Mereka saling mengenal satu sama lain dan bekerja sambil menggosip. Kebanyakan di sudut-sudut jalan ada pedagang yang menjual makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh pedagang lain. Walaupun tidak ada data statistik, tetapi moyoritas pedagang eceran adalah penduduk setempat dan umumnya pedagang besar adalah orang Tionghoa. Hal ini berkaitan dengan posisi sosio-historisnya sebagai pedagang perantara antara Belanda dan penduduk bumiputra.
Perkembangan komersial di Pasar Pedamaran ini menjadi magnet kuat untuk perkembangan komersial berikutnya di wilayah sekitarnya. Pecinan sebagai wilayah pemukiman berada persis di sebelah selatan pasar, tentu saja memperoleh dampak yang kuat. Tidak hanya karena rumah-rumah yang ada perlahan-lahan berubah menjadi bangunan-bangunan komersial, tetapi juga tempat pemukiman yang kemudian secara jelas menyatu dengan pasar. Dengan kata lain, ironisnya, justru telah menjadi bagian dari pasar itu sendiri, dan wilayahnya telah menjadi padat. Akibatnya di belakang jalan utama muncul kampung perkotaan dengan gang sempit dimana orang-orang Tionghoa miskin tinggal di gudang-gudang tua, yang disekat-sekat dalam beberapa ruangan untuk keluarga tidak peduli apakah mereka berhubungan atau tidak. Setiap keluarga memiliki satu kamar yang mungkin dipakai baik untuk tidur, menerima tamu, dan masak. Para penghuni menyewa kamar dari seorang tuan tanah atau mendiaminya secara ilegal karea pemiliknya yang tidak diketahui lagi.