Showing posts with label Fengshui. Show all posts
Showing posts with label Fengshui. Show all posts

Monday, February 2, 2015

Kepustakaan



BENNET, Steven J
1978      “Patterns of the Sky and Earth: A Chinese Science of Applied Cosmology Caption to Figures, dalam Chinese Science, Volume III, Maret, halaman 1 – 26, Philadelphia, Pennsylvania.

KOOLHAAS, Rem
1978      Delirious Newyork, A Retroactive Manifesto for Manhattan, Thames and Hudson, London.

SKINNER, Stephen
1982      The Living Earth Manual of Feng Shui, Chinese Geomancy. Routledge and Kegan Paul, London.

STEINHARDT, Nancy Schatzman
1990      Chinese Imperial City Planning, University of Hawaii, Honolulu.

CHANG, Amos Ih Tiao
1956      The Tao of Architecture, Princeton University Press, New Jersey

TOO, Lilian
1987      Penerapan Fengshui (dari judul asli Applied Pa-Kua and Lo-Shu),  PT Elex Media Komputindo, Jakarta

WALTERS, Derek
1991      The Feng Shui Handbook, A Practical Guide to Chinese Geomancy, The Aquarian Press, London.

Kesimpulan.



Fengshui sebagai teknik perancangan arsitektur harus didasari pandangan bahwa arsitektur adalah prosesi bentuk-bentuk kosmologis. Ia bagaikan prosesi Sampokong dari kelenteng Gang Lombok ke Gedong batu yang terdiri dari berbagai kostum yang berbeda warnanya. Prosesi ini seakan menuju satu titik kesempurnaan yang menunjukkan keseimbangan antara manusia dan alam. Satu prosesi bentuk yang tak dapat ditangkap oleh logika ruang tetapi selalu ada dan memperngaruhi kehidupan manusia. Arsitektur adalah seni yang bergelayut di antara satu juta bentuk dan tak berbentuk dan menjelma dalam ide dan kenyataan. Selain itu arsitektur merupakan dialektika antara im dan Yang, positif dan negatif perpindahan secara horisontal dan vertikal.

Peran Fengshui didalam tata ruang guna mendapatkan lingkungan hunian yang baik telah lama dianut, mengapa tidak kita lakukan sekarang? Seharusnya dalam menyusun Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, sebagai program pembangunan pemerintah didaerah urban, bukan hanya membutuhkan analisa-analisa visual demi keindahan saja, tetapi juga memerlukan pertimbangan-pertimbangan Fengshui agar tatanan kota menjadi menenteramkan ( saya memakai istilah tenteram karena mengandung arti sejahtera dan bukan hanya kenyamanan secara fisik).

Uraian diatas menunjukkan bahwa kita belum sepenuhnya tertransformasi ke alam modern yang penuh dengan rasionalisme yang meninggalkan diskursus kesakralan. Apakah hal ini negatif? Tidak! Semua ini menunjukkan bahwa kita tetap hidup dalam prinsip-prinsip ketimuran yang menyatukan diri dengan alam. Kita tetap hidup dalam dunia irasional yang penuh misteri dan takjub akan kebesaran Tuhan.

* * *

Elaborasi Antara Bundaran Tugu Muda dan Kraton Jogjakarta.



Kira-kira 500 km disebelah barat Simpang Lima, adalah Bundaran Tugu Muda yang dikelilingi oleh Rumah dinas gubernur, Bank BDNI, dan gedung Lawang Sewu yang akan diubah menjadi hotel. Dari Fengshui, didapatkan bahwa posisi rumah gubernur di pinggir sebuah bundaran yang di tengahnya terdapat tugu dan lalulintas yang padat akan menimbulkan banyak ketidak tenangan dalam hidup penghuni rumah itu. Keputusan-keputusan yang diambil gubernur banyak dikritik dan banyak menimbulkan nada sinis. Mengapa? Sebab, seperti telah diterangkan dimuka, tugu yang tinggi merupakan simbol api yang panas dan seiring dengan itu arus lalu lintas yang padat di depan rumah dan di sekeliling bundaran merupakan pusaran air yang membawa nafas alam pergi.

Sangat kontras dengan istana raja-raja Jawa yang menghindari tugu didepannya. Sri Sultan Hamengku Buwono I yang mendirikan kota Jogjakarta, misalnya, meletakkan tugu sejauh 2 km dari Kraton dan alun-alun. Kehendak  Belanda dengan menempatkan bangunan-bangunan di depan alun-alun guna mengurangi kewibawaan Sri Sultan justru memberikan elemen tanah yang secara tidak sengaja mengurangi atau menghalangi pengaruh tugu masuk kedalam keraton. Justru dijaman modern dengan dibangunnya kantorpos, gedung-gedung bank di utara alun-alun, kewibawaan Keluarga keraton semakin bertambah dan jauh dari angkara murka. Sri Sultan Hamengku Buwana IX misalnya, adalah figur yang demikian dicintai rakyatnya.

Adanya bangunan-bangunan Belanda (sebagai unsur tanah) yang lebih tinggi dari tugu, menghalangi unsur api yang dapat mengusik ketentraman penghuni kraton dan keturunannya. Sedang tugu yang menjulang tinggi di bundaran Tugu Muda memberi dampak negatif bagi penghuni di sekeliling Bundaran. Walaupun disana ada gedung tinggi (Bank BDNI) sebagai unsur tanah, tetapi karena letaknya berdampingan dengan rumah dinas gubernur tadi, tidak dapat menangkal panasnya api.

Antara Pecinan dan Simpang Lima Kota Semarang



Pecinan di Semarang tidak didirikan berbatasan dengan pantai yang berombak dan menyulitkan penambatan perahu. Sebaliknya berada di perairan sungai yang tenang didekat muara. Ong King Hong waktu membangun Pecinan (permukiman Tionghoa) di Simongan berada di tepi sungai Garang dengan dilatar belakangi perbukitan. Demikian pula waktu orang Tionghoa dipindahkan ke area pecinan yang sekarang. Walaupun area yang mereka tempati merupakan dataran rendah dengan dikelilingi kali Semarang, mereka membangun deretan rumah-rumah yang pertama di tepi sungai dan di tengahnya kolam yang disebut Bale Kambang. Di tahun 1924 tatkala Belanda akan menutup kolam ini karena dianggap sebagai sarang nyamuk orang-orang Tionghoa pada waktu itu protes, hasilnya justru Belanda membuat parit disepanjang jalan di Pecinan sehingga air kolam tadi mengalir. Sekarang kolam ini sudah tidak ada bekasnya. Sejak tahun 1966 bale kambang ditutup dan diatasnya didirikan  gudang. Tetapi, bukan berarti bahwa penduduk didaerah ini tidak percaya lagi dengan Fengshui. Mereka tetap berusaha menangkal Sha dengan memasang berbagai jimat di pintu.

Walaupun permukiman ini tumbuh secara organik dan tanpa perencanaan awal, tetapi karena semuanya menganut prinsip-prinsip fengshui, kita temui disini tidak ada simpang empat yang besar. Simpang empat yang terjadi hanyalah disepanjang Gang Cilik yang sebenarnya menjadi jalan yang dipakai sebagai jalan tembus saja. Sedang dijalan-jalan yang lain yang ada adalah simpang tiga dan diujung as jalan adalah kelenteng. Kelengteng ini dimaksudkan untuk menjaga permukiman yang ada di sepanjang jalan didepannya. Jadi dia bagaikan penjaga siang malam dari lingkungan ini untuk memberikan banyak keselamatan dan rejeki. Dengan posisi yang seperti ini pecinan Semarang mampu bertahan sejak  abad ke 18 hingga sekarang melalui berbagai pergolakan politik dan kerusuhan silih berganti. Nafas hidup yang mengalir secara kontinyu ternyata membawa permukiman ini tetap survive.

Di lain pihak, Simpang lima adalah ruang terbuka yang dikelilingi oleh bangunan tinggi. Dipandang dari fungsinya Simpang Lima merupakan tempat berkumpul untuk upacara, jalan-jalan dsb. Walaupun dari pemahaman kosmologis ruang terbuka ini tidak memiliki makna yang berkaitan dengan makro kosmos dan mikro kosmos, secara kosmologi terapan, ruang terbuka ini dikelilingi oleh satu susunan bidang dan titik  yang merupakan tempat dimana Qi berkumpul dan memberikan banyak rejeki. Lapangan Simpang Lima menjadi daerah Central Bussiness District karena dia terbuka dan tidak ada unsur api ditengahnya. Lapangan yang luas ini mereduksi kekuatan aliran yang membawa pergi Qi. Lain halnya jika di Lapangan Simpang lima dibangun bangunan (misalnya saja untuk parkir) walaupun bagian atas bangunan parkir ini tetap dipertahankan sebagai tempat terbuka, bangunan ini akan memberikan unsur tanah yang merugikan. Memang masalah parkir dapat teratasi, tetapi bangunan disekitar simpang lima akan mengalami penurunan kelas dan pada akhirnya pusat kota akan berpindah ke tempat yang baru .

Untuk keadaan yang ada sekarang, pertanyaannya, bangunan mana yang mendapat Qi terbanyak? Tidak salah lagi tentu hotel dan Mal Ciputra yang tegak lurus dengan jalan pahlawan yang menurun dari atas. Jika tidak ada lapangan yang luas, maka Mall Ciputra berada pada posisi tusuk sate dan tidak menguntungkan. Sebaliknya dengan adanya simpang lima, maka Mall ciputra bagaikan mulut naga yang mencaplok hampir seluruh Qi yang mengalir didaerah itu. Agar bangunan lain dapat bersaing tentunya perlu dimodifikasi sehingga menjadi mulut naga yang lebih besar. Untuk itulah mendisain simpang lima dan bangunan disitu butuh pengetahuan seorang urban disainer yang sekaligus paham akan fengshui.

Praktek Fengshui Dalam Urban Design



Jaman dulu  Analisa Fengshui dari aliran form school secara intuitif dilakukan melalui studi bentuk-bentuk topografi permukaan tanah. Sekarang dengan munculnya bangunan-bangunan raksasa yang puluhan tingkat analisa ini mengarah pada rangkaian bentuk bangunan yang seharusnya selaras dengan penataan urban disain. Bentuk-bentuk tanah, logam, kayu, api dan air adalah dasar baik dari analisa tampak bangunan sampai hubungan antara bangunan yang berpengaruh pada karakter ruang kota. Misalnya sebuah supermarket tiga lantai yang memanjang tentunya merupakan simbolisasi bentuk tanah. Diatasnya akan baik jika dibangun gedung bentuk lengkung simbolisasi logam untuk atap restauran yang terpisah dari bentuk bangunan secara keseluruhan. Sesuai dengan prinsip Fengshui bahwa bentuk logam akan kukuh jika didudukan diatas bentuk tanah. Restauran seperti ini akan banyak memberi keberuntungan bagi pemiliknya.

Sebaliknya dengan teknologi yang terus berkembang, bangunan dengan bentuk yang sama tetapi puluhan lantai akan menjadi bentuk-bentuk api yang meruncing. Bentuk-bentuk bangunan tinggi di New york misalnya disebut Rem Koohaas sebagai jarum yang menjulang keangkasa.15) Bentuk semacam ini akan menimbulkan kepanasan, ketidaktentraman baik bagi yang tinggal di dalamnya maupun orang yang lewat di jalan di bawahnya. Banyak kritikus mengatakan bangunan seperti ini dingin dan menakutkan, dan banyak pula yang menjadi stress hidup di kota yang penuh dengan pencakar langit.

Memang pada dataran yang rata penggunaan kompas akan sangat bermanfaat membaca bentuk secara abstrak dan pendekatan Fengshui dengan bentuk-bentuk kosmologis tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Tetapi dengan munculnya kota-kota modern dengan ketinggian bangunan yang berbeda-beda pendekatan bentuk akan dapat memberikan panutan didalam menata ketinggian bangunan agar Qi dapat mengalir kesetiap bangunan. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendekatan bentuk pada dasarnya sangat aktual untuk urban disain saat ini.


15) KOOLHAAS, 1978.